Perisaijurnalis.com, Enrekang – Penolakan rencang penambangan emas semakin mencuat setelah aliansi masyarakat lingkar tambang menolak keras tanpa adanya negosiasi, kini berkibar spanduk dari warga Desa Pinang, Kecamatan Enrekang , Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan.
Spanduk terpampang dengan tulisan “Tolak Tambang Emas“ Lebih Baik Jual Jagung Daripada Jual Emas. EMAS Enrekang Masolang #Riso100% Menolak di wilayah mereka.
Syahrul warga Desa Pinang menyampaikan bahwa, alasan warga menolak sangatlah etis karna takut terhadap dampak yang ditimbulkan ketika tambang emas beroperasi dan mereka sudah sejahtera melalui hasil pertanian dan berternak saat ini yang sudah tidak ada alasan lagi pemerintah daerah dan legislatif untuk mendukung perjuangan masyarakat. Jumat (05/12/2025).
“Kenapa demikian,? karena warga Desa Pinang selama ini belum ada kita lihat yang mati karena kelaparan, mengemis dan tidur di kolom jembatan. Aktivitas bertani dan berternak sudah cukup bagi mereka untuk menunjang perekonomian mereka dan tentu ini menjadi pertimbangan besar oleh pemerintah daerah,” ucapnya.
Lanjut Syahrul, “Saya sangat menyesali ketika pemerintah daerah memberikan karpet merah terhadap investor dengan gejolak penolakan masyarakat saat ini yang patut di pertanyakan, karna masyarakat lebih membuka mata hati mereka terhadap menjaga lingkungan yang berpotensi berdampak besar ke banding pemerintah daerah dan legislatif.
Ia menjelaskan bahwa, Penambangan emas sangat berdampak mulai dari kerusakan lingkungan , pencemaran air, dampak sosial diantaranya dapat menggusur masyarakat, pencemaran air bersih, pencemaran air untuk lahan pertanian masyarakat akibat kandungan merkuri dan sianida yang juga membahayakan kesehatan manusia dan ekosistem. Memproduksi emas untuk satu cincin kawin saja menghasilkan 20 ton limbah.
“Jika dilakukan aktivitas eksploitasi alam untuk tambang emas, maka masyarakat akan dirugikan. Janji-janji kesejahteraan dan klaim tambang emas menguntungkan itu tidak sebanding dengan resiko bencana alam skala besar yang ditimbulkan. Ketika bencana alam skala besar terjadi, masyarakat harus menanggung sendiri akibatnya,” ungkapnya.
“Kami sebagai masyarakat tentu menolak keras tanpa adanya negosiasi lagi karna dampak-dampak tambang emas sudah jelas di depan mata seperti kejadian Sumatra, Aceh dan bahkan di daerah tetangga Luwu Utara yang harusnya menjadi perhatian khusus oleh pemerintah daerah yang seolah tuli dan buta atas persoalan ini, yang justru masyarakat lebih memikirkan lingkungan dari pada mereka itu sendiri,“ jelas Syahrul sebagai wilayah terdampak .
Lebih lanjut Syahrul mengatakan bahwa perusahan tidak bisa menjamin, bahkan negara seringkali lepas tangan soal itu. Maka dari itu, bisa dikatakan sebagai ilusi kesejahteraan dari tambang. Sebab masyarakat hanya mendapatkan dampak dari keuntungan segelintir orang, tapi jikalau hancur ekosistemnya, mereka yang harus menanggung sendiri.
“Alasan-alasan inilah yang menjadi ketakutan masyarakat sehingga mereka betul-betul menolak tambang emas tanpa adanya negosiasi dan berharap pemerintah daerah serta legislatif agar berpihak kepada warga dan tentu berharap kolaborasi untuk menjegal CV Hadap Karya Mandiri demi menjaga alam dari kerusakan yang ditimbulkan,” tambahnya.
“Kami juga akan bergabung dengan aliansi masyarakat lingkar tambang dan sikap-sikap politik mereka tentu kami dukung serta siap mengambil resiko apapun ketika tambang emas ini memaksakan untuk merusak ekosistem di Bumi Massenrempulu . Seruan penolakan ini sebagai bentuk bahwa warga desa pinang dengan sikap menolak keras Tanpa adanya negosiasi lagi, Pemda dan Legislatif tidak ada alasan lagi untuk berpihak kepada warga,“ tegasnya. (MPJ)

